Just another WordPress.com site

CERPEN REMAJA “LAKI-LAKI PECUNDANG”


hidup laki-laki itu sendiri

ia menanti dipagi hari

ia berlari disiang hari

tanpa kawan yang menyemangati

ia punya penantian ketika pagi

ia punya harapan ketika memandang

hingga ia hidup dalam kehampaan

sampai akhirnya ia ditinggal dan menangis

Disudut kelas itu laki-laki itu yang bernama Deni tertunduk malu, wajahnya sedikit pucat mendengar ejekan teman-teman kelasnya. “hey Den, kau ini cupu banget sih” Sahut teman yang lain “iya masa kau bilang suka tapi tadi pas didepannya seperti orang bego” “hahahaa..” suara teman- temanya begitu menyakitkan terdengar “ya sudah mending kau dekati saja kambing, kan lumayan tuh sama-sama pendiam” kembali ejekan itu terlontar dari teman yang lain. Suasana senyap ketika guru masuk ruang kelas. Namun Deni itu masih saja melamun memandang dengan tatapan kosong, sepotong kapur melayang kearah kepala Deni. “aduh” sambil memegang kepalanya. “hey, Deni perhatikan pelajaran jangan melamun saja, kau sekolah niat melamun saja atau mau belajar” “iya pak” Akibat dari kejadian itu, suasana kelas yang sunyi menjadi ramai penuh dengan tawa. Jam pelajaran pun berlalu, bel istirahat membuat senang para siswa untuk segera menghabiskan uang jajan mereka. Ku lihat Deni, kini dia mengucilkan diri sendiri kebelakang sekolah. Kulihat dia sedang memandang salah satu kantin sekolah, pandangannya sayu dengan penuh lamunan. “wanita itu”(dalam hatiku kaget, bukankah ia adalah wanita yang tadi pagi ditemui Deni tapi tidak jadi). Lama pandangannya memperhatikan wanita itu sampai jam waktu istirahat berlalu dan semua murid masuk kedalam penjara kelas yang memuakkan. Wajah Deni kembali berseri-seri seakan habis diberikan motivasi oleh seseorang. Semangatnya pun kembali ada, murungnya mulai tidak terlihat sampai ketika jam pelajaran berlangsung pun. *** Bel tanda pulang sekolah tiba, Deni bergegas cepat-cepat keluar kelas. Dia pandang salah satu kelas yang ternyata sudah kosong, Deni berlari seakan mengejar sesuatu. Aku yang merasa aneh dengan perilaku Deni yang sudah 3 minggu ku perhatikan. Deni melambatkan langkahnya seakan sudah menemukan sesuatu yang dicarinya, dia terdiam dan kembali memandang wanita itu di kejauhan disebrang jalan tempat menunggu angkot, Senyumnya kini kulihat lagi dari raut wajahnya. Wanita itu pun naik angkot, ku terus pandangi Deni, wajahnya seakan kecewa menerima kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak terlihat lagi olehnya. Kembali kulihat wajah murungnya dan aku benci melihatnya. *** Pada lain hari ku lihat Deni begitu gelisah dari raut wajahnya ia kelihatan berfikir keras melawan sesuatu hal yang menghalanginya selama ini. Terlihat ditangannya kado kotak kecil kadang ditaruhnya dan terkadang diambil lagi seakan ada keraguan. Pertanyaan Aku pun mulai muncul (apakah si Deni akan memberikan kado itu pada wanita itu?) hah mungkin saja apalagi dengar-dengar tadi dikelas teman-teman ramai-ramai mengejek dia tentang hari ulang tahun wanita itu. “BRAAAAAK” suara meja di pukul keras oleh Deni “aah, aku bisa!!” Deni itu bicara sendiri, lalu bergegas berjalan menuju kantin belakang sekolah. (Wanita itu Cuma sendiri untungnya, pasti si Deni berani menghampirinya) fikirku. Tapi baru setengah jalan Deni menghentikan langkahnya dan kembali memutar arah kembali ke kelas. “parah, payah sekali si Deni ini” kataku “Ah bosan lihat seperti ini terus mending aku tanya langsung ke wanita itu” berjalan meuju wanita itu. “hey kamu Fitri bukan?” sapa aku sambil mendekat duduk disampingnya. “iya kenapa?” sambil tersenyum “tidak apa-apa, saya Cuma mau Tanya sedikit-sedikit tentang kamu?” “ow boleh saja, Tanya tentang apa? pasti tentang ka Deni temen sekelas kaka yah?” “iyah ko kamu tahu?” betapa terkejutnya aku “pasti tau lah ka, orang dia suka liatin saya. Jadi sayanya risih.” “heem begitu, iya sih risih.” “tapi saya dulu pernah suka sama ka Deni” ungkapnya dengan muka merunduk seakan menyesal. Terus dilanjutkan perkataannya itu “tapi sekarang saya sudah punya pacar jadi rasa itu sudah hilang, ka Deni itu baik sebenarnya” “baik bagaimana?” Tanyaku bingung “pas ujian dulu saya semeja dengan ka Deni” “ow iya, pas semesteran itu kelas kita emang digabung. Terus terus” penasaran “pas ujian saya di lempar kertas contekan oleh teman saya dan kelihatan oleh pengawas, akhirnya kertas jawaban saya mau diambil. Tapi malah ka Deni mengaku contekan itu kepunyaannya sehingga kertas jawabannya yang dikambil pengawas” ku lihat kepala wanita itu sedikit merunduk, mungkin karena rasa sesalnya itu. “TEEET TEEEET TEEEEET…..” bel sekolah menandakan jam istirahat selesai. Aku bergegas pergi menuju kelas. Sekarang Aku sudah tau dan akan aku biarkan saja si Deni mengagumi wanita itu walau kini perasaan wanita itu sudah tidak lagi untuknya. *** Fikir ku hari berikutnya mungkin si Deni lebih semangat mengerjakan sesuatu hal yang lain, ternyata yang kulihat pekerjaan yang dilakukannya selalu sama dan terulang disetiap harinya. Laki-laki itu hanya berani memandang dari kejauhan tanpa sebuah kata dan berubah untuk mendekati wanita itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s