Just another WordPress.com site

Latest


http://www.stafaband.info/embed-42030.html

CERPEN REMAJA “LAKI-LAKI PECUNDANG”


hidup laki-laki itu sendiri

ia menanti dipagi hari

ia berlari disiang hari

tanpa kawan yang menyemangati

ia punya penantian ketika pagi

ia punya harapan ketika memandang

hingga ia hidup dalam kehampaan

sampai akhirnya ia ditinggal dan menangis

Disudut kelas itu laki-laki itu yang bernama Deni tertunduk malu, wajahnya sedikit pucat mendengar ejekan teman-teman kelasnya. “hey Den, kau ini cupu banget sih” Sahut teman yang lain “iya masa kau bilang suka tapi tadi pas didepannya seperti orang bego” “hahahaa..” suara teman- temanya begitu menyakitkan terdengar “ya sudah mending kau dekati saja kambing, kan lumayan tuh sama-sama pendiam” kembali ejekan itu terlontar dari teman yang lain. Suasana senyap ketika guru masuk ruang kelas. Namun Deni itu masih saja melamun memandang dengan tatapan kosong, sepotong kapur melayang kearah kepala Deni. “aduh” sambil memegang kepalanya. “hey, Deni perhatikan pelajaran jangan melamun saja, kau sekolah niat melamun saja atau mau belajar” “iya pak” Akibat dari kejadian itu, suasana kelas yang sunyi menjadi ramai penuh dengan tawa. Jam pelajaran pun berlalu, bel istirahat membuat senang para siswa untuk segera menghabiskan uang jajan mereka. Ku lihat Deni, kini dia mengucilkan diri sendiri kebelakang sekolah. Kulihat dia sedang memandang salah satu kantin sekolah, pandangannya sayu dengan penuh lamunan. “wanita itu”(dalam hatiku kaget, bukankah ia adalah wanita yang tadi pagi ditemui Deni tapi tidak jadi). Lama pandangannya memperhatikan wanita itu sampai jam waktu istirahat berlalu dan semua murid masuk kedalam penjara kelas yang memuakkan. Wajah Deni kembali berseri-seri seakan habis diberikan motivasi oleh seseorang. Semangatnya pun kembali ada, murungnya mulai tidak terlihat sampai ketika jam pelajaran berlangsung pun. *** Bel tanda pulang sekolah tiba, Deni bergegas cepat-cepat keluar kelas. Dia pandang salah satu kelas yang ternyata sudah kosong, Deni berlari seakan mengejar sesuatu. Aku yang merasa aneh dengan perilaku Deni yang sudah 3 minggu ku perhatikan. Deni melambatkan langkahnya seakan sudah menemukan sesuatu yang dicarinya, dia terdiam dan kembali memandang wanita itu di kejauhan disebrang jalan tempat menunggu angkot, Senyumnya kini kulihat lagi dari raut wajahnya. Wanita itu pun naik angkot, ku terus pandangi Deni, wajahnya seakan kecewa menerima kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak terlihat lagi olehnya. Kembali kulihat wajah murungnya dan aku benci melihatnya. *** Pada lain hari ku lihat Deni begitu gelisah dari raut wajahnya ia kelihatan berfikir keras melawan sesuatu hal yang menghalanginya selama ini. Terlihat ditangannya kado kotak kecil kadang ditaruhnya dan terkadang diambil lagi seakan ada keraguan. Pertanyaan Aku pun mulai muncul (apakah si Deni akan memberikan kado itu pada wanita itu?) hah mungkin saja apalagi dengar-dengar tadi dikelas teman-teman ramai-ramai mengejek dia tentang hari ulang tahun wanita itu. “BRAAAAAK” suara meja di pukul keras oleh Deni “aah, aku bisa!!” Deni itu bicara sendiri, lalu bergegas berjalan menuju kantin belakang sekolah. (Wanita itu Cuma sendiri untungnya, pasti si Deni berani menghampirinya) fikirku. Tapi baru setengah jalan Deni menghentikan langkahnya dan kembali memutar arah kembali ke kelas. “parah, payah sekali si Deni ini” kataku “Ah bosan lihat seperti ini terus mending aku tanya langsung ke wanita itu” berjalan meuju wanita itu. “hey kamu Fitri bukan?” sapa aku sambil mendekat duduk disampingnya. “iya kenapa?” sambil tersenyum “tidak apa-apa, saya Cuma mau Tanya sedikit-sedikit tentang kamu?” “ow boleh saja, Tanya tentang apa? pasti tentang ka Deni temen sekelas kaka yah?” “iyah ko kamu tahu?” betapa terkejutnya aku “pasti tau lah ka, orang dia suka liatin saya. Jadi sayanya risih.” “heem begitu, iya sih risih.” “tapi saya dulu pernah suka sama ka Deni” ungkapnya dengan muka merunduk seakan menyesal. Terus dilanjutkan perkataannya itu “tapi sekarang saya sudah punya pacar jadi rasa itu sudah hilang, ka Deni itu baik sebenarnya” “baik bagaimana?” Tanyaku bingung “pas ujian dulu saya semeja dengan ka Deni” “ow iya, pas semesteran itu kelas kita emang digabung. Terus terus” penasaran “pas ujian saya di lempar kertas contekan oleh teman saya dan kelihatan oleh pengawas, akhirnya kertas jawaban saya mau diambil. Tapi malah ka Deni mengaku contekan itu kepunyaannya sehingga kertas jawabannya yang dikambil pengawas” ku lihat kepala wanita itu sedikit merunduk, mungkin karena rasa sesalnya itu. “TEEET TEEEET TEEEEET…..” bel sekolah menandakan jam istirahat selesai. Aku bergegas pergi menuju kelas. Sekarang Aku sudah tau dan akan aku biarkan saja si Deni mengagumi wanita itu walau kini perasaan wanita itu sudah tidak lagi untuknya. *** Fikir ku hari berikutnya mungkin si Deni lebih semangat mengerjakan sesuatu hal yang lain, ternyata yang kulihat pekerjaan yang dilakukannya selalu sama dan terulang disetiap harinya. Laki-laki itu hanya berani memandang dari kejauhan tanpa sebuah kata dan berubah untuk mendekati wanita itu.

sintaksis


alat sintaksis terdiri atas urutan, bentuk kata, intonasi, dan kata tugas kesemuannya itu memengaruhi perubahan makna, contohnya:

-anjing makan kucing

-kucing makan anjing

kata anjing makan kucing mengalami perubahan makna setela urutannya dirubah menjadi kucing makan anjing, itu bukti bahwa alat sintaksis mengalami perubahan makna.

puisi


taubat

di atas tanah aku mengaji
menghapus kata-kata yang menjadi dosa
ku tambah cerita dengan do’a
tentang mereka
tentang orang-orang dibawah tanah
penyesalan atau kebanggaan tak bertambah dosa
aku sekarang hidup
mungkin esok aku bahagia
ku sambut tanah yang menemaniku

mengintip senja

bayangan ku menapak jejak
sehelai berkas kekosongan menghinggapi
sebentar aku melayat
nah…..
ini matahari yang dulu ku tertawakan
penuh kenistaan cahaya

abu

mengepul di udara
bekas api yang telah padam
dan sejuta nyawa meniupnya
ingatkan hidup yang nanti mati

cibel

jendela setumpuk anak jalanan
mengadu hidup dengan tikus lapar
anakku jalanan tak makan
seharian teriak meminta
sedangkan tikusku makan serakus-rakusnya

puisi


taubat

di atas tanah aku mengaji
menghapus kata-kata yang menjadi dosa
ku tambah cerita dengan do’a
tentang mereka
tentang orang-orang dibawah tanah
penyesalan atau kebanggaan tak bertambah dosa
aku sekarang hidup
mungkin esok aku bahagia
ku sambut tanah yang menemaniku

mengintip senja

bayangan ku menapak jejak
sehelai berkas kekosongan menghinggapi
sebentar aku melayat
nah…..
ini matahari yang dulu ku tertawakan
penuh kenistaan cahaya

abu

mengepul di udara
bekas api yang telah padam
dan sejuta nyawa meniupnya
ingatkan hidup yang nanti mati

cibel

jendela setumpuk anak jalanan
mengadu hidup dengan tikus lapar
anakku jalanan tak makan
seharian teriak meminta
sedangkan tikusku makan serakus-rakusnya

makalah menulis


JENIS-JENIS KARANGAN

1. Karangan Narasi

1.1 Pengertian Narasi

Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu. Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Jadi narasi berusaha menjawab pertanyaan, “Apa yang telah terjadi?” (Keraf, 2000:136). Karangan kisahan (narasi) memaparkan terjadinya suatu peristiwa, baik peristiwa kenyataan, maupun peristiwa rekaan. Berkenaan dengan peristiwa itu dipaparkan siapa yang menjadi pelaku, bagaimana perilakunya, dimana tempat terjadinya, siapa juru ceritanya (Rusyana, 1982:2). Narasi adalah suatu karangan yang biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi hanya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat (Zaenal Arifin dan Amran Tasai, 2002:130). Narasi merupakan bentuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu (Semi, 2003:29).

Dari pendapat-pendapat tersebut Aceng Hasani dalam buku diktat keterampilan bahasa (2004) mengambil poin-poin penting yang berkaitan dengan narasi. Poin-poin penting tersebut meliputi (1). Bentuk cerita, (2). Menonjolkan pelaku, (3). Kronologis waktu, (4). Disusun secara sistematis. Dari poin-poin penting tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa narasi  merupakan gambaran peristiwa yang sejelas-jelasnya dapat dipahami oleh pembaca melalui kronologis waktu dan penyusunan tulisan secara kronologis yang selalu dimulai dengan permasalahan.

Analisis kelompok;

1. Radani Apriana: dari definisi-definisi diatas terdapat perbedaan pendapat, Keraf mengartikaan Kisangani narasi pada kejelasan kejadian. Sedangkan menurut Rusyana mengartikan narasi pada hal-hal yang terlibat dalam kaitannya dengan karangan, pada definisi Zaenal Arifin dan Amran Tasai menjelaskan narasi pada penempatan narasi yang biasanya diterapkan pada novel dan hikayat, sedangkan menurut Semi menyatakan bahwa narasi dilihat dari pengalaman. Dari definisi-definisi di atas  terdapat perbedaan-perbedaan pendapat tetapi pendapat itu saling melengkapi pendapat yang lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa narasi merupakan peristiwa yang digambarkan penulis dengan sejelas-jelasnya sehingga dapat dipahami oleh pembaca dengan menghubungkan setiap kejadian dari pengalaman manusia.

1.2 Ciri-ciri Karangan Narasi

Ciri-ciri narasi diungkapkan oleh Atar Semi (2003:31) sebagai berikut;

  1. Cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis;
  2. Kejadian atau peristiwa yang disampaikan dapt berupa peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi, atu gabungan keduanya;
  3. Berdasarkan konfliks, karena tanpa konflik biasanya narsi tidak menarik;
  4. Memiliki nilai estetika, karena isi dan cara penyampaiannya bersifat sastra, khususnya narasi yang berbentuk fiksi;
  5. Menekankan susunan kronologis (catatan; deskripsi menekankan susunan ruang);
  6. Memiliki dialog.

1.3 Jenis-Jenis Karangan Narasi

Jenis karangan narasi terbagi menjadi dua, yaitu;

a. Narasi Ekspositorik (narasi teknis)

adalah narasi yang memiliki sasaran menyampaikan informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang lain tentang kisah seseorang.

b. Narasi Sugestif

adalah narasi yang berusaha untuk memberi suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu.

2 Karangan Eksposisi

2.1 Pengertian Karangan Eksposisi

Rusyana (1984: 29) berpendapt bahwa karangan eksposisi merupakan karangan yang membahas atau menerangkan sesuatu. Keraf (1984:3) juga mengemukakan pendapat yang hampir sama bahwa eksposisi adalah salah satu bentuk tulisan yang berusaha untuk menerangkan dan mengaitkan satu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan seseorang yang membaca uraian tersebut. Sedangkan Tarigan (1987:62) bahwa eksposisi yaitu tulisan yang berusaha menerangkan, menjelaskan, dan menguraikan masalah, persoalan, atau ide, yang dapat memperluas pandangan pembaca. Eksposisi lebih menonjolkan tujuan memperlus pandangan dan pengetahuan pembaca. Eksposisi merupakan bentuk tulisan yang sering digunakan dalam menyampaikan uraian ilmiah dan tidak berusaha mempengaruhi pendapat pembaca. Melalui eksposisi pembaca tidak menerima apa yang dikemukakan oleh penulis.

Analisis kelompok;

1. Radani Apriana: dari definisi-definisi diatas terdapat perbedaan pendapat. Pendapat Rusyana bahwa karangan eksposisi merupakan karangan yang menerangkan sesuatu , sedangkan menurut keraf bahwa karangan eksposisi merupakan karangan yang memberikan pengetahuan. Sedangkan Tarigan mendefisikan karangan eksposisi merupakan karangan yang berusaha memberikan pengetahuan melalui pemecahan masalah yang ditawarkan dalam karangan itu sehingga pembaca dapat bertambah pengetahuannya.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa karangan eksposisi merupakan karangan yang mencoba menjelaskan menerangkan sejelas-jelasnya agar pembaca dapat menerina pengetahuan yang dituangkan dalam karangan tersebut.

2.2 Ciri-ciri Karangan Eksposisi

Karangan eksposisi bersifat informative, pengarang hanya berusaha menjelaskan suatu pokok persoalan kepada pembaca. Menurut Keraf (1984:4) ciri-ciri karangan eksposisi sebagai berikut;

1)      Tujuan maupun gaya penulisannya bersifat informative;

2)      Keputusannya bersifat objektif;

3)      Bahasa dalam pembahasannya bersifat logis.

Menurut Atar Semi (2003:37) cirri penanda karya eksposisi adalah sebagai berikut;

1)      Berupa tulisan yang memberikan pengertian dan pengetahuan.

2)      Menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, dan bagaimana.

3)      Disampaikan dengan bahasa baku dan lugas.

4)      Menggunakan nada netral, tidak memihak, dan tidak memaksakan sikap penulis terhadap pembaca.

2.3 Jenis-Jenis Karangan Eksposisi

Berdasarkan cara atau metode penguraiannya atau pembahasan dalam karangan eksposisi menurut Keraf (1984:24) dapat dibeda-bedakan atas;

1)      Eksposisi identifikasi

2)      Eksposisi perbandingan

3)      Eksposisi proses

4)      Eksposisi ilustrasi

5)      Eksposisi analisis

6)      Eksposisi klasifikasi

7)      Eksposisi definisi.

3. Karangan Deskripsi

3.1 Pengertian deskripsi

Suhendar(1982) berpendapat, bahwa deskripsi berasal dari bahasa latin descrpcere yang berarti menulis tentang atau membeberkan sesuatu. Selain itu, deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemerian yang berarti melukiskan tentang sesuatu. Deskripsi adalah tulisan yang bertujuan memberikan perincian detail tentang objek sehingga dapat memberi pengaruh pada sentivisitas dan imajinasi pembaca atau pendengar, bagaikan mereka melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami objek tersebut (Atar Semi. 2003:41).

Analisis kelompok:

1. Radani Apriana: dari definisi-definisi diatas terdapat perbedaan antara pendapat Suhendar dengan Semi. Pendapat Suhendar mendefinisikan deskripsi pada kejelasan pembaca melalui melukiskan sesuatu agar pembaca paham, sedangkan Semi mendefinisikan deskripsi merupakan penjelasan secara rinci agar pembaca dapat memahami cerita yang sedang dibacanya.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa deskripsi menekankan pada perincian suatu objek secara detail agar pembaca seolah-olah dapat merasakan sesuatu yang jelaskan tersebut dengan melukiskan hal-hal yang terkait dengan penceritaan tersebut.

3.2 Ciri-ciri Karangan Deskripsi

Ciri-ciri penanda deskripsi adalah sebagai berikut;

a.       Deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail atau perincian tentang objek.

b.      Deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinatif pembaca.

c.       Deskripsi disampaikan dengan gaya yang memikat dn dengan pilihn kata yng menggugah.

d.      Deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapt didengar, dilihat, dan dirasakan, sehingga objeknya pada umumnya berupa benda; alam, warna, manusia.

e.       Organisasi penyampaiannya lebih banyak menggunakan susunan ruang.

3.3 Jenis-Jenis Karangan Deskripsi

a. Deskripsi Ekspositorik (deskripsi teknis)

deskripsi ekspositorik bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekankan unsure impresi atau sugesti kepada pembaca.

b. Deskripsi Artistik

Deskripsi artistik adalah deskripsi yang mengarah kepada pemberian pengalaman kepada pembaca bagaikan berkenalan langsung dengan objek yang disampaikannya dengan cara menciptakan sugesti dan impresi melalui keterampilan penyampaian dengan menggunakan gaya yang memikat dan pilihan kata yang menggugah perasan.

4 Karangan Argumentasi

4.1 Pengertian Argumentasi

Menurut Keraf (1994:4) mengemukakan bahwa karangan argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis pembicara. Menurut Hasani (2004) bahwa karangan argumentasi adalah suatu jenis karangan yang berusaha mempengaruhi orang lain dengan cara menyajikan bukti-bukti sebagai penguat argumentasi yang dinyatakan secara logis dan factual dengan tujuan  pembaca atau pendengar tertarik dengan yang dikemukakan oleh penulis.

Analisis kelompok:

1. Radani Apriana: dari definisi diatas terdapat sedikit perbedaan dalam mendefinisikan argumentasi. Menurut Keraf menekankan argumentasi pada bentuk retorika yang berusaha mempengaruhi pendapat oranglain, sedangkan menurut Aceng Hasani bahwa argumentasi merupakan karangan yang membeberkan bukti-bukti sebagai penguat argumentasi agar pembaca tertarik atau terpengaruh.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa karangan merupakan rujukan pada pembaca agar percaya dengan apa yang penulis paparkan dengan mengajukan bukti-bukti yang mendukung kebenaran tulisan tersebut.

4.2 Ciri-ciri Karangan Argumentasi

Karangan argumentasi dapat dimsukan kedalam eksposisi, berdasarkan pemaparannya, jenis karangan ini pada prinsipnya disebut persuasi (Ardian, 2002:11). Bersadarkan pendapat ini dapat dikemukakan ciri-ciri karangan argumentasi sebagai berikut:

a)      Merupakan karangan ilmiah;

b)      Menggunakan bahasa yang rasional dan objektif;

c)      Menggunakan argument-argumen yang kuat;

d)      Menggunakan pemikiran-pemikiran yang logis dan rasional;

e)      Mengajukan bukti-bukti atau fakta-fakta yang actual.

Daftar Pustaka

  1. Semi, Atar. 2003. menulis efektif. Padang: Angkasa Raya
  2. Hasani, Aceng. 2004. Diktat Menulis Kreatif. serang

apa itu ilmu karya Chalmers


Chapter 1
Science as knowledge derived from
The facts of experience

A widely held commonsense view of science
In the introduction I ventured the suggestion that a popular conception of the distinctive feature of scientific knowledge is captured by slogan “science is derived from the facts”. In the first four chapters of this book this view is subjected to a critical scrutiny. We will find that much of what is typically taken to be implied by the slogan cannot be defended. Nevertheless, we will find that the slogan is not entirely misguided and I will attempt to formulate a defensible version of it.
When it is claimed that science is special because it is based on the facts, the facts are presumed to be claims about the world that can be directly established by a careful, unprejudiced use of the senses. Science is to be based on what we can see, hear and touch rather than on personal opinions or speculative imaginings. If observation of the world is carried out in a careful, unprejudiced way then the facts established in this way will constitute a secure, objective basis for science. If, further, the reasoning that takes us from this factual basis to the laws and theories that constitute scientific knowledge is sound, then the resulting knowledge can itself be taken to be securely established and objective.
The above remarks are the bare bones of a familiar story that is reflected in a wide range of literature about science. “science is a structure built upon facts” writes J. J. Davies (1968, p. 8) in book on the scientific method, a theme elaborated on by H. D. Anthony (1948, p.145):
It was not so much the observations and experiments which Galileo made that caused the break with tradition as his attitude to them. For him, the facts based on them were taken as facts, and not related to some prococeived idea…. The facts of  observation might, or might not, fit into an acknowledged scheme of the universe, but the important thing, in Galileo’s opinion, was to accept the facts and build the  theory to fit them.
Anthony here not only gives clear expression to the view that scientific knowledge is based on the facts established by observation and experiment, but also gives a historical twist to the idea, and he is by no means alone in this. An influential claim is that, as a matter of historical facts, modern science was born in the early seventeenth century when the strategy of taking the facts of observation seriously as the basis for science was first seriously adopted. It is held by those who embrace and exploit this story about the birth of science that prior to the seventeenth century the observable facts were not taken seriously as the foundation for knowledge. Rather, so the familiar story goes, knowledge was based largely on authority, especially the authority of the philosopher Aristotle and the authority of the bible. it was only when this authority was challenged by an appeal to experience, by pioneers of the possible. The following account of the oft-told story of Galileo and the Leaning Tower of Pisa, taken from Rowbotham (1918, pp.27-9), nicely captures the idea.
Galileo’s first trial of strength with the university professors was connected with his researches into the laws of motion as illustrated by falling bodies was regulated by their respective weights: thus, a stone weighing only a single pound and so on. No one seems to have questioned the correctness of this rule, until Galileo gave it his denial. He declared that weight had nothing to do with the matter and that ….. two bodies of unequal weight …. Would reach the ground at the same moment. As Galileo’s statement was flouted by the body of  professors, he determined to put it to a public test. So he invited the whole university to witness the experiment which  he was about to perform from the leaning tower. On the morning of the day fixed, Galileo, in the presence of the assembled university and townsfolk, mounted to the top the tower, carrying with him two balls, one weighing one hundred pounds and the other weighing one pound. Balancing the balls carefully on the edge of the parapet, he rolled them over together; they were seen to fall evenly, and the next instant, with a load clang, they struck the ground together. The old tradition was false, and modern science, in the person of  the young discoverer, had vindicated her position.

Two schools of thought that involve attempts to formalize what I have called a common view of science, that scientific knowledge is derived from the fact, are the empiricists and the positivists. The british empiricists of the seventeenth and eighteenth centuries, notably John Locke, George Berkeley , and David Hume, held that all knowledge should be derived from ideas implanted in the mind by way of sense perception. The positivists had a somewhat broader and less psychologically orientated view of what facts amount to, but shared the view of the empiricists that knowledge should be derived from the facts of experience. The logical positivists, a school of  philosophy that originated in Vienna in the 1920s, took up the positivism that had been introduced by Auguste Comte in the nineteenth century and attempted to formalize it, paying close attention to the logical form of the relationship between scientific knowledge should in some way be common view that scientific knowledge should in some way be derived from the facts arrived at by observation.
There are two rather distinct issues involved in the claim that science is derived from the facts. One concerns the nature of these ‘facts” and how scientist are meant to have access to them. The second concerns how the laws and theories that constitute our knowledge are derived from the facts once they have been obtained. We will investigate these two issues in turn, devoting this and the next two chapters to a discussion of the nature of the facts on which science is alleged to be based and chapter 4 to the question of how scientific knowledge might be thought to be derived from them.
There components of the stand on the facts assumed to be the basis of science in the common view can be distinguished they are:
(a)    facts are directly given to careful, unprejudiced observers via the senses.
(b)    Facts are prior to and independent of theory.
(c)    Facts constitute a firm and reliable foundation for scientific knowledge.
As we shall see, each of these claims is faced with difficulties and, at best, can only be accepted in a highly qualified form.

Seeing is believing
Partly because the sense of sight is sense most extensively used to observe the world, and partly for convenience, I will restrict my discussion of observation to the realm of seeing, in most cases, it will not be difficult to see how the argument presented could be re-cast so as to be applicable to the other senses. A simple account of seeing might run as follows. Humans see using their eyes. The most important components of the human eye are a lens and retina, the latter acting as a screen on which images of objects external to the eye are formed by the lens. Rays of light from a viewed object pass from the object to the lens via the intervening medium. These rays are refracted by the material of the lens in such a way that they are brought to a focus on the retina, so forming an image of the object. Thus far, the functioning of the way the final image is recorded. Optic nerves pass from the retina to the central cortex of the brain. These carry information concerning he light striking the various regions of the retina. It is the recording of this information by the brain that constitutes the seeing of the object by the human observer. Of course, many details could be added to this simplified description, but the account offered captures the general idea.
Two points are strongly suggested by the forgoing account of observation through the sense of sight that are incorporated into the common or empiricist view of science. The first is that a human observer has more or less direct access to knowledge of some facts about the world insofar as they are recorded by the brain in the act of seeing. The second is that two normal observers viewing the same object or scene from the same place will “see” the same thing. An identical combination of light rays will strike the eyes of each observer, will be focused on their normal retinas by their normal eye lenses and give rise to similar images. Similar information will then travel to the brain of each observer via their normal optic nerves, resulting in the two observers seeing the same thing. In subsequent sections we will see why thi kind of picture is seriously misleading.

Visual Experiences Not Determined Solely By The Object Viewed
In its starkest form, the common view has it that facts about the external world are directly given to us through the sense of sight. All we need to do is confront the world before us and record what is there to be seen. I can establish that there is a lamp on my desk or that my pencil is yellow simply by noting what is before my eyes. Such a view can be backed up by a story about how the eye works, as we have seen. If this was all there was to it, then what is seen would be determined by the nature of what is looked at, and observers would always have the same visual experiences when confronting the same scene, however, there is plenty of evidence to indicate that this is simply not the case. two normal observer viewing the same object from the same place under the same physical circumstances do not necessarily have identical visual experiences, even though the images on their respective retinas may be virtually identical. There is an important sense in which two observers need not “see” the same thing. As N.R. Hanson (1958) has put it, “there is more to seeing than meets the eyeball”. Some simple examples will illustrate the point.
Most of us, when first looking at Figure 1, see the drawing of a staircase with the upper surface of the stairs visible. But this is not the only way in which it can be seen. It can without difficulty be seen as a staircase with the under surface of the stairs visible. Further, if one looks at the picture for some time, one generally finds that what one sees changes frequently, and involuntarily, from a staircase viewed from above to one viewed from below and back again. And yet it seems reasonable to suppose that, since it remains the same object viewed by the observer, the retinal images do not change. Whether the picture is seen as a staircase viewed from above or one viewed from below seems to depend on something other than the image on the retina of viewer. I suspect that no reader of this book has questioned my claim that Figure 1 depicts a staircase. However, the results of experiments on members of African tribes whose culture does not include the custom of depicting three-dimensional objects by two-dimensional perspective drawings, nor staircases for that matter, indicate that members of those tribes would not see Figure 1 as a staircase at all. Again, it seems to follow that the perceptual experiences that individuals have in the act of seeing are not uniquely determined by the images on their retinas. Hanson (1958, chapter 1) contains some more captivating example that illustrate this point.
Another instance is provided by children’s picture puzzle that involves finding the drawing of a human face among the foliage in the drawing of a tree. Here, what is seen. That is, the subjective impressions experienced by a person viewing the drawing, at first corresponds to a tree, with trunk, branches and leaves. But this changes once the human face has been detected. What was once seen as branches and leaves is now seen as a human face. Again, the same physical object is viewed before and after the solution of the puzzle, and presumably the image on the observer’s retina does not change at the moment the puzzle is solved and the face found. If the picture is viewed at some later time, the face is readily and quickly seen by an observer who has already solved the puzzle once. It would seem that there is a sense in which what an observer sees is affected by his or her past experience.
“What”, it might well be suggested, “have these contrived examples got to do with science?” in response, it is not difficult to produce examples from the practice of science that illustrate the same point, namely, that what observers see, the subjective experiences that they undergo, when viewing an object or scene is not determined solely by the images on their retinas but depends also on the experience, knowledge and expectations of the observer. The point is implicit in the uncontroversial realization that one has to learn to be a competent observer in science. Anyone who has been through the experience of having to learn to see through a microscope will need no convincing of this. When the beginner looks at a slide prepared by an instructor through a microscope  it is rare that the appropriate cell structures can be discerned, even though the instructor has no difficulty discerning them when looking at the same slide through the same microscope. It is significant to note, in this context, that microscope found no great difficulty observing cells divide in suitably prepared circumstances once they were alert for what to look for, whereas prior to this discovery these cell divisions went unobserved, although we now know they must have been there to be observed in many of the samples examined through a microscope. Michael Polanyi (1973, p. 101) describes the changes in medical student’s perceptual experience when he is taught to make a diagnosis by inspecting an X-ray picture.